DESA LANJAN KEC.SUMOWONO KAB. SEMARANG

: Jln. Jendral Sudirman Km.2 No.3, Desa Lanjan Kecamatan Sumowono | : (0298)6072346 | : desa_lanjan@yahoo.com

SEJARAH DESA LANJAN

                Sejarah Desa Lanjan tak bisa lepas dari sepasang suami istri warga Dusun Andi Desa Candigaron yang bernama Kyai RUSMI da Nyai RUSMI yang menjadi pendiri atau Bobak citak Dusun Lanjan. Dan sampai saat ini nama Lanjan tetap menjadi nama pusat pemerintahan.

                Sebelum kita membahas desa Lanjan secara rinci maka akan kami uraikan terlebih dahulu sejarah Dusun per Dusun karen sejarah Desa Lanjan Tak pernah bisa lepas dari sejarah Dusun- dusun lainnya.

  1.  SEJARAH DUSUN LANJAN

Berawal dari sepasang suami istri yang berprofesi sebagai petani yang berasal dari Desa Candigaron tepatnya dari Dusun Candi. Sepasang suami istri itu bernama Kyai Rusmi dan Nyai Rusmi, ada juga yang menyebut namanya Kyai Arum dan Nyai Arum, dan ada juga yang memanggil beliau dengan sebuatan Kyai Abdul Madjid dan Nyai Abdul Madjid. Sepasang suami istri ini mempunyai rumah yang sekaligus sebagai bobak citak ( pendiri)  di daerah Candigaron.

Kyai Rusmi mempunyai tanah di luar Desa yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Sehingga mereka memutuskan untuk membawa bekal bahan makanan yang asih mentah untuk dibawa kesawah dan kemudian dimasak disana.  Lama kelamaan mereka berfikir unutk mendirikan sebuah gubuk sebagai sarana tempat tinggal mereka ***. Selain itu mereka juga membawa serta lembu/ sapi mereka yang biasa digunakan untuk membajak sawah dan kemudian dibuatkan kandang disekitar gubuk tempat tinggal mereka. Sejak saat itu sepasang suami istri ini merasa senang dan damai tinggal di tempat itu dan memiliki keturunan disitu.  Tempat yang memerka tinggali tersebut mereka berinama Lanjan

Nama Dusun Lanjan berasal dari kata Nglajo atau Lajo yang berarti perjalanan pulang pergi dari dan ke tempat kerja. Dalam perkembangannya, penduduk Dusn Lanjan bukan saja berasal dari anak keturunan Kyai dan Nyai Rusmi, namun sudah banyak pedatang dari luar daerah. Menurut cerita Bapak Taris selaku narasumber menyebutkan bahwa penduduk Lanjan berasal dari wilayah Mataram atau Jogja. Mereka menyingkir kewilayah utara karena wilayah Mataram terjadi situasi yang kurang aman dengan merajalelanya gerombolan berandal atau penjahat. Rombongan oraqng-orang tersebut kemudian sampai diwilayah Lanjan. Menurut cerita pekerjaan para pendatang tersebut adalah sebagai bakul Gereh atau pedagang ikan asin.

Mayoritas penduduk Lanjan adalah keturunan langsung dari Kyai Rusmi dan Nyai Rusmi, melainkan orang-orang dari pendatang dari wilayah Selatan misalnya dari daerah menoreh dan daerah Yogya. Sedangkan keturunan langsung Kyai Rusmi sampai sekarang ada di Dusun Suruhan Desa Jubelan yang bernama Mbah Mudji Marsaid. Sedangkan di Dusun Lanjan sendiri juga ada tetapi sudah meninggal dan mempunyai keturunan yang masih menetap di Dusun Lanjan.

Cerita mengenai kehebatan Kyai Rusmi dan Nyai Rusmi ini tidak saja terletak pada kepandaiannya menemukan dan membuka hutan dan dijadikan sawah, namun beliau juga memiliki daya linuwih. Seperti orang suci, konon setelah membuka sawah kemudian bermaksud untuk mengairinya. Namun kerana belum ada air unutk mengairi sawah tersebut, maka mereka menancapkan sebuah incis atau sejenis tongkat yang ujungya berupa besi aji. Kemudian beliau mencabutnya, bersamaan dengan tongkat itu tercabut keluarlah air. Sumber air atau blumbang sedianya untuk anak cucunya dalam memenuhi kebutuhan mengairi sawah mereka dikemudian hari. Namun karena perkembangan jaman, penduduk setempat cenderung merawat sumber air ini, sehingga sampai saat ini dapat dikatakan sumber air tersebut tidak mengalir. Menurut penutur yaitu Pak Sarbini  rusak dan padamnya sumber air ini  sumber air ini karena ulah penduduk yang meanggar pantangan yang berlaku di blumbang ini. Pantangan tersebut antara lain dilarang mencuci alat dapur terutama sarangan dan dilarang membuang kotorandi Blumbang ini. Masyarakat kebanyakan tidak mengindahkan hal ini dan bahkan melanggarnya, sehingga sumber air disini berkurang debit airnya lalu pada akhirnya mati.  Dusun Lanjan setidaknya memiliki tiga sumber mata air yang merupakan peninggalan dari Kyai Rusmi selaku pendiri dusun ini, ketiga blumbang ini antara lain blumbang Kali Tlumpak, Blumbang Kali Beji yang masih terawat dengan baik serta memiliki debit air yang melimpah. Sedangkan kedua blumbang yang lain sudah berkurang jauh debit airnya dan terlihat kotor, bahkan salah satu blumbang itu dijadikan tempat meredam kayu.

Cerita mengenai daya linuwih dari tokoh Mbah Kyai Rusmi adalah mengenai peralatan pertaniannya, yaitu alu dan lesung. Konon tempat untuk alu dan lesung ini kemudian bernama daerah Tumpak. Di wilayah Lanjan terdapat aturan untuk dilarang memukul lesung pada malam hari.

Hubungan kemasyarakatan antar penduduk Desa Lanjan dengan penduduk Dusun  Candi di Desa Candigaron juga memiliki kisah yang unik. Dalam masalah pernikahan, antara penduduk Desa Lanjan dengan penduduk Dusun Candi Desa Candigaron dilarang menjalin hubungan pernikahan. Menurut cerita, hal ini terjadi karena asal dari pendiri atau bobak citak wilayah Lanjan yaitu Kyai dan Nyai Rusmi berasal dari dusun Candi sehingga menurut keyakinan masyarakat penduduk candi”lebih tua” dari penduduk Dusun Lanjan.

Kyai dan Nyai Rusmi hingga akhir hayatnya tetap tinggal di Dusun Lanjan dan dimakamkan disebuah Bukit Manjeran. Bukit ini masuk wilayah Lanjan karena mereka berdua telah menemukan kebahagiaan ditempat ini. Daerah Lanjan merupakan kawasan yang subur sehingga akan mendatangkan kebahagiaan bagi siapa saja yang hidup di daerah ini.

 

KETERANGAN:

*.            Wawancara dengan Bapak Sutaris

**.         Letak dari sawah yang digarap oleh Kyai dan Nyai Rusmi berada di sebelah barat Dusun Kalibanger.

***.      Bekas Gubuk dari Kyai dan Nyai Rusmi ini masih ada yaitu yang ditempat yang sekarang menjadi rumah Bapak Kadar Marjito.

NARASUMBER:

  1. Bapak Teguh Murtadho
  2. Bapak Sarbini
  3. Bapak Sutaris
  4. Kadus Lanjan

Disadur dari buku “ Teja Kusuma di Bukit Manjeran” karangan TRI SUBEKSO S.S ( Petugas Pamong Budaya Kab. Semarang) dan ARYONO ( Alumnus UNDIP Jurusan Sejarah)

 

 

  1. SEJARAH DUSUN KALIBANGER

Pada jaman dahulu 2 orang pejalan kaki dari dusun Berokan Banyukuning lewat disebuah tempat. Dan waktu berjalan 2 orang pejalan kaki tersebut merasa keletihan, lalu beristirahatlah kedua orang tersebut dibawah sebuah pohon Leri yang mana dibawah pohon  tersebut ada sebuah sendang/ Blumbang ( Bahasa Jawa), kemudian salah seorang dari mereka mengambil air untuk diminum. Ternyata air sendang tersebut berbau banger ( Bahasa Jawa). Maka 2 orang tersebut berkata “ Jikalau kelak dikemudian hari tempat ini menjadi perkampungan akan aku berinama KALIBANGER ( artinya Kali= Sungai, Banger= Bau)” yang dalam bahasa jawa yaitu: Rejaning jaman panggonan iki tak jenengi Kalibanger.

Selang beberapa tahun kemudian pada saat kerajaan Mataram ( Ngayogyakarta Hadiningrat) datanglah seorang laki-laki yang bernama MBAH MURID bersama dengan istrinya yang membuka tempat dilokasi dekat sendang tersebut, sehingga lambat laun bermukimlah beberapa orang, sehingga berdirilah sebuah perkampungan dengan hanya terdiri dari 7 rumah, adapun kampung yang hanya dihuni 7 rumah tersebut bernama Dukoh.

Kemudian pada jaman VOC, pada waktu perang Diponegoro datanglah seorang Pangeran anak buah Paneran Diponegoro yang bernama MBAH KYAI NOMPO beserta adiknya ditempat yang bernama Kalibanger ini, dan membuka tempat tersebut untuk dijadikan pemukiman, namun adik dari Mbah Kyai Nompo melanjutkan perjalanan kearah selatan dan mendirikan perkampungan yang bernama kampung Jambon.

Kembali kesejarah Dusun Kalibanger. Setalah pemukiman atau kampung dibuka maka lambat laun kampung tersebut berkembang, dan Mbah Kyai Nompo menikah dengan salah satu kerabat Mbah Murid yang menjadi yang pada saat menjadi pendiri kampung Dukuh, sampai kemudian mempunyai anak. Namun anak dari Mbah Kyai Nompo tidak berumur panjang atau disebut dengan mati muda.

Setelah perkampungan menjadi berkembang maka dipilihlah salah satu dari pendiri – pendiri 2 kampung tersebut  untuk menjadi pemimpin, sehingga ditunjuklah Mbah Kyai Nompo untuk memimpin Desa Kalibanger yang terdiri dari 3 Dusun yaitu Dusun Kalibanger, Dusun Dukuh dan Dusun Jambon.

Setelah Mbah Kyai Nompo wafat maka pucuk kepemimpinan ( Lurah) dipegang oleh Mbah SETROWIJAYAN dengan Bekel ( Kadus pada saat ini). Setalah Mbah Setrowijayan wafat, lurah dari kalibanger dipimpin oleh Mbah SAWUD, dengan tatacara pemilihan menggunakan sapu lidi, sampai kemudian masih pada jaman VOC terjadi perampingan atau penggabungan beberapa desa diantaranya Desa Susukan yang terdiri dari Dusun Susukan dan Dusun Ngelo, Desa Lanjan yang terdiri dari Dusun Lanjan dan Dusun Tegalroto serta Desa Larangan menjadi satu dengan sebutan DESA LANJAN.

Lurah Desa Lanjan yang pertama yaitu Mbah Sopyan yang berasal dari Garon, yang pada waktu itu menjadi menantu Penatus ( setingkat Camat pada saat ini), namun beliau tidak lama memimpin Desa Lanjan, karena baru memimpin selama 2 tahun telah wafat. Lalu istrinya menikah dengan seorang laki-laki dari Gondoriyo Jambu.

 

NARA SUMBER:

                Bapak Siswadi ( Mantan Kepala Desa Lanjan periodetahun 1993 s/d 1998)

 

 

  1. SEJARAH DUSUN JAMBON

Setelah adik Kyai Nompo ( yang namanya tidak diketahui) melanjutkan perjalanan kearah selatan, beliau mendirikan rumah yang didekat sebuah pohon Jambon yang bergitu rindang. Kemudian bermukim  disitu dan hingga akhirnya temapat itu menjadi ramai didatangi orang-orang untuk ikut bermukim ditempat tersebut. Sehingga tempat ini diberi nama Kampung  Jambon, sesuai dengan banyaknya pohon Jambon yang tumbuh subur didaerah itu.

Konon cerita pada jaman dahulu pada waktu Kerajaan Mataram datanglah seseorang yang mempunyai daya linuwih yang bernama Kyai Kadi Mulyo di kampung tersebut dan bermukim disitu hingga wafat, sampai sekarang makamnya masih dirawat oleh warga dusun Jambon untuk dijadikan punden.

Cerita daya linuwih dari kyai kadi Mulyo hampir sama dengan kelinuwihan yang dimiliki oleh bobak citak Dusun Lanjan. Konon cerita dahulu pada saat beliau ingin mengairi sawah yang berada disebelah utara  Dusun Jambon beliau kebingungan karena tak ada sumber air disekitar tempat itu. Beliau menggunakan pusakanya yang berupa incis diseret dari pertengahan hulu sungai ngasinan samapai dengan lokasi sawah yang akan diari. Peninggalan dari Kyai Kadi Mulyo di Dusun Jambon berupa saluran irigasi yang sampai saat ini masih dipergunakan oleh warga dusun Jambon, Lanjan dan kalibanger untuk mengairi sawahnya.

Karena kurangnya sumber yang bisa diwawancarai untuk menyusun sejarah dusun Jambon, maka penyusunan sejarah ini tidak bisa selengkap seperti sejarah dusun-dusun lainnya. Dikarenakan sampai saat ini masyarakat dusun Jambon masih kebingungan dan masih mencari siapa pendiri atau bobak citak dusun ini.

NARA SUMBER:

  1. Bapak Siswadi ( Mantan Kepala Desa Lanjan periode th 1993 s/d 1998)
  2. Kepala Dusun Jambon
  3. Bapak Alim Sukamto

 

  1. SEJARAH DUSUN SUSUKAN

Konon cerita pada jaman setelah Perang Diponegoro sekitar tahun 1825- 1830, datanglah anak buah Pangeran Diponegoro di sustu tempatyang mana nantinya disebut kampung Susukan. Namun sebelum nama susukan diberikan pada saat itu, sudaha ada namanya terlebih dahulu yaitu kampung Leboh.

Konon anak buah Pengeran Diponegoro itu bernama Kyai Sontojati dan Nyai Sontojati, bersama dengan pembantunya yang bernama Kyai Tumpak ( yang nama tersebut adalah bobak citak dusun Ngelo), dan datanglah ketiga orang tersebut dikampung yang kemudia diberi nama Leboh. Dahulu kala sebelum menjelma menjadi kampung Susukan ditempat tersebut ada dua kampung yaitu kampung leboh dan kampung Langensari. Karena suata hal ( adanya gedebluk yang melanda kampung leboh), maka orang-orang yang berada di kampung leboh mendirikan rumahnya kearah selatan berdampingan dengan kampung Langensari, maka dari itu kemudian nama kedua kampung tersebut berubah nama menjadi Susukan berasal dari kata Ngesuk. Karena kurangnya nara sumber yang bisa diwawancarai maka sejarah dusun Susukan hanya sampai disini.

 

NARA SUMBER

  1. Bapak Sunarto
  2. Bapak Parman

 

  1. SEJARAH DUSUN LARANGAN

Untuk cerita sejarah Dusun Larangan tidak bisa diceritakan disini, karena tidak adanya nara sumber yang bisa menceritakan asal mula kampung Larangan.

  1. SEJARAH DUSUN TEGALROTO

Konon diceritakan bahwa pada jaman dahulu, bobak citak dusun tegalroto sama dengan bobak citak dusun lanjan. Tegalroto berasal dari kata Tegal dan Roto, Tegal artinya  tanah  tegalan dan roto berarti rata, sehingga arti secara harfiahnya dusun Tegalroto berarti Tanah tegalan yang rata.

Disini kami sebutkan nama-nama yang pernah menjadi bekel dusun Tegalroto dari Bekel pertama sampai yang sekarang.

Bekel pertama                  : Mbah Todrono berasal dari Yogya

Bekel kedua                       : Mbah Kasan Iman berasal dari Gunungpati

Bekel Ketiga                       : Mbah Kasan Ali Dali berasal dari Limbangan

Bekel keempat                 : Mbah Suwardjo

Bekel kelima                      : Ismun

Demikian sejarah dusun Tegalroto

 

NARA SUMBER:

Bapak Samudi

 

  1. SEJARAH DUSUN NGELO

Di ceritakan diatas bahwa yang mendirikan dusun Ngelo adalah pembantu Kyai Sonto dan Nyai Sonto yang bernama Kyai Tumpak. Pada awalnya Kyai Tumpak adalah seorang pembantu dari Kyai dan Nyai sonto yang bertugas menjaga perkebunan kopi milik  Kyai dan Nyai Sonto. Lalu Kyai Tumpak mendirikan sebuah gubuk ditempat tersebut, dikarenakan lelah untuk Nglajo dari Susukan.

Kata Ngelo berasal dari kata Ngelo’ake orang- orang  yang berusaha mencuri kopi di kebun milik Kyai dan Nyai Sonto. Konon cerita di dusun Ngelo ada pantangan bagi Bekel yang menjadi pemimpin dusun tersebut, dan pantangan ini berlaku hingga sekarang. Adapun pantangan- pantangan tersebut antara lain:

  1. Bekel/ Kadus Ngelo tidak boleh ngrumat orang meninggal dunia, dikarenakan  nantinya rakyat Ngelo tidak dapat berkembang;
  2. Tidak boleh ikut mengantar orang yang meninggal sampai ke makam, dikarenakan nantinya rakyatnya akan berkurang;
  3. Jikalau ada kenduri tidak boleh nyarek/ dititipi/madahi berkat, dikarenakan nantinya rakyat dusun Ngelo akan jauh dari rejeki;
  4. Jika ada warga yang mendirikan rumah, kadus Ngelo tidak boleh naik keatas atap dikarenakan nantinya rakyat yang dipimpinnya akan mbrengkele atau berani melawan;
  5. Tidak boleh makan jenang abang;
  6. Kadus Ngelo tidak boleh ngrangkep jadi modin, dikarenakan nantinya rakyatnya akan habis.

Jika pantangan- pantangan ini dilanggar, maka yang akan menanggung segala akibatnya adalah kepala Dusun Sendiri.

Petilasan rumah atau gubuk dari Kyai Tumpak saat ini menjadi rumah Bapak Turmudi. Dan yang menjadi bekel dusun Ngelo dari yang pertama sampai sekarang adalah:

  1. Mbah Mustofa;
  2. Mbah Amat Irsat;
  3. Mbah Amat Taslim;
  4. Mbah Kasan Djayadi;
  5. Mbah Surawan:
  6. Mbah Kartono ;
  7. Badawi;
  8. Trisno;
  9. Teguh.

NARA SUMBER:

Bapak Kartono.

Demikian sekilas cerita dusun-dusun yang berada di wilayah Desa Lanjan.

Seperti telah diceritakan diatas pada sejarah duusn kalibanger yang mana pada jaman penjajahan Belanda VOC terjadi perampingan atau penggabungan dari desa- desa yang berada disekitar Desa Lanjan, yaitu Desa Kalibanger, Desa Susukan Desa Larangan. Mengenai keberadaan Desa Lanjan sendiri sudah dijelaskan secara rinci di depan bahwa Desa Lanjan yang tadinya berupa dusun telah berubah menjadi sebuah desa. yang dipimpin oleh kepala pemerintahan yang berupa Penatus, adapun siapa nama penatus Desa Lanjan tidak diketahui. Kemudian tentang Desa Kalibanger sendiri sudah diceritakan sedikit diatas bahwa Desa Kalibanger merupakan suatu desa tersendiri yang mempunyai kepala Pemerintahan yang disebut Lurah yang bernama Mbah Setrowijayan, dan terdiri dari 3 dusun yaitu Dusun Kalibanger sendiri, Dusun Dukoh dan Dusun Jambon. Dusun- dusun yang masuk wilayah Kalibanger  mempunyai Kepala Pemerintahan sendiri- sendiri yang disebut Bekel ( Sekarang Kadus). Adapun Bekel yang pertama kali keturunan dari Kyai Nompo sendiri Bekel dukoh pertama kali adalah Mbah Markasan, sedangkan Bekel Jambon pertama kali tidak diketahui namanya. Setelah Mbah Setrowijayan wafat kemudian diadakan pemilihan Lurah Kalibanger yang baru dengan tata cara menggunakan lidi, dari hasil pemilihan tersebut dimenangkan oleh Mbah Sawud jadi dari jaman dahulu demikrasi sudah ada di Desa Lanjan. Cuma tata caranya berbeda dengan jaman sekarang. Sedangkan untuk Dusun Jambon yang pada waktu itu berstatus sebagai dukuhan dibawah Desa Kalibanger, sehingga mau tidak mau Dusun Jambon harus mengikuti tata cara Desa Kalibanger , sehingga mau tidak mau dusun Jambon harus mengikuti tata pemerintahan Desa Kalibanger. Lambat laun karena perkembagan Jaman dusun Jambon akhirnya berdiri sendiri menjadi Desa jambon dengan Kepala Desa Bernama .....  setelah beliau wafat rumahnya Mbah Panut saat ini ditempati atau menjadi rumah Bp. Alim Sukamto Sampai kemudian kepala Desa yang terakhir bernma Mbah Djojo Wilastro.

ALBUM